Bukan, ini bukan topik tentang kebijakan kampus yang melarang penggunaan sandal. Hei bicara soal sandal, (aku jadi teringat kelakuan ex Dekan-ku yang sekarang naik pangkat jadi Pembantu Rektor, yang selalu memarahi orang-orang di fakultas yang memakai sandal, dengan dia sendiri sedang memakai… SANDAL!!!
Hampir semua anak muda di sini (Surabaya maksudnya) tau, sebuah acara besar berupa kompetisi mading antar sekolah (mungkin sekarang sudah menjadi se-Jawa Timur) yang sangat besar dan bergengsi. Acara itu selalu berevolusi, dengan seorang jurnalis (calon chairman dari sebuah koran yang sangat-sangat besar di Jawa Timur, soalnya anaknya sih…) yang menjadi otak pengembang disetiap acara-acara sebuah bagian artikel khusus untuk anak muda tersebut.
Sebelum hari H, ada sebuah artikel “pemanasan sebelum acara” yang menyebutkan bahwa para penonton harus berpakaian yang sopan (ini masih masuk akal) dan tidak boleh memakai sandal.
“Hm… pasti entar ada apa-apa nih”, begitu dugaanku waktu itu.
Eh, ternyata benar! Ketika acara berlangsung dengan sukses, penuh dengan memorabilia (wajar, namanya juga promosi
) itu, tentu saja tertampang dengan jelas di headline artikel untuk daerah Surabaya. Lucunya, di gambar headline tersebut terlihat bahwa pembawa acaranya (seorang Master of Ceremony terkenal di Jakarta, pembawa acara pagi hari bersama partnernya Desta di Prambors FM, masak nggak tau?) ternyata… memakai SANDAL!
Hmm… apakah sekarang pemakai sandal selalu diidentikkan dengan orang tak tahu diri, tak berpendidikan, wes pokoke jelek kabeh? Pantas saja penjahat berdasi dan bersepatu mahal sekarang semakin banyak
)
2 Komentar
ah itu kan mungkin sebuah sepatu model baru…. jangan berprasangka
@mardun: wekekek, dah liat fotonya belum?