Arsip Bulanan: Agustus 2008

Well, sudah lama nggak ngisi blog. Hampir aja genap 1 bulan ini blog terbengkalai… tiba-tiba… inget deh kalo ini blog harus punya banyak perubahan. Beli domain lagi (domain kemaren akhirnya aku lepas karena nggak lupa diperpanjang, padahal cuman telat 2 minggu doang… bodoh kan?), menyelesaikan 4 draft yang belum selesai (habis males sih…), belajar mengubah isi blod dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris (kata mentorku dulu sih, proses pembelajaran paling bagus ya harus melihat, memikirkan dan menulis sebuah bahan tiap hari).

Enough for chit-chat.

Tanggal 29 Agustus kemaren, ada sebuah peristiwa unik. Sebenernya nggak bisa dibilang unik-unik amat, kelakuan begini mah sering banget kejadian di kompetisi sepakbola lokal. Dan aku pun sudah nggak tertarik-tertarik amat dengan hal-hal begituan. Toh, ketika Tim Nasional Indonesia bermain, aku yang paling pertama berteriak kegirangan ketika kekalahan diderita oleh tim kesayangan bangsa ini (bangga enggak, nelangsa enggak, pasrah deh). Namun, yang membuat unik, dan yang membuatku tidak berpaling, justru tim tamu yang berasal dari luar negeri, Libya, yang berulah seperti itu. Kelanjutan 45 menit babak kedua akhirnya harus dibatalkan karena sang tim tamu memilih mundur daripada harus melanjutkan turnamen (CATAT: yang “diperintah” oleh wakil presiden Jusuf Kalla untuk merebut gelar juara umum) yang rencananya akan diadakan rutin ini.

Pada konferensi pers, pelatih Libya sangat meminta maaf kepada semua pihak atas keputusan mereka. Sang pelatih mengungkapkan alasannya bahwa dirinya mengalami proses “intimidasi yang wajar” (CATAT LAGI: BAGI SEPAKBOLA INDONESIA) berupa pemukulan saat berada di lorong menuju ruang ganti, yang katanya (pelatih Libya tersebut) pelakunya bisa jadi merupakan salah satu offisial tim Indonesia (pelatih kiper) dan satu lagi adalah jurnalis. Karena shock setelah mengalami “kehangatan” KHAS ALA SEPAKBOLA INDONESIA, maka sang pelatih menghubungi federasi sepakbola Libya dan meminta restu untuk melakukan Walk Out. Restu pun didapat. Dan selanjutnya, sperti yang diberitakan di media massa, terjadilah insiden tersebut.

Di lain pihak, sang pelatih tim nasional Indonesia, Benny Dollo, mengutarakan uneg-uneg atas strategi Libya yang terlalu mengulur-ulur waktu dengan sering terjatuh dan berpura-pura cedera (hey pak gendut, itu strategi sepakbola profesional, terlihat unfair memang, tapi lebih baik dibandingkan pola fisik pemain Indonesia yang hanya bertahan selama 70 menitan doang!). Di kesempatan yang sama, sang pelatih juga menjelaskan bahwa dirinya tidak tahu akan insiden pemukulan itu, karena kebutulan dirinya sudah berada di ruang ganti ketika insiden berlangsung. Fair enough atas pembelaannya.

Dan disini media langsung memainkan perannya sebagai manipulator keadaan. Untuk menutup citra Indonesia sebagai penyelenggara kompetisi internasional yang aman (ditambah akan diadakannya piala AFF sebentar lagi), maka Libya menjadi pihak yang guilty one. Dan tuan rumah menjadi pihak the right one. Ironi? nggak, memang begitulah Indonesia apa adanya, dengan segala komponen yang sudah rusak, tak bertanggung jawab, dan bangga atas hal-hal yang jauh dibawah nilai fair play. Jadi, mungkin pelatih sekelas Peter Withe tidak cocok dan berjodoh untuk melatih Indonesia. Memang lebih cocok dengan gaya kepelatihan lokal, yang panas begitu gaya bermain tim lawan seperti tidak memberikan kesempatan bagi tim didikannya untuk berkembang (ya seperti Benny Dollo ini). Strategi tim pun lebih cocok dengan gaya umpan lambung yang nggak jelas juntrungannya kemana, daripada proses one-two short pass yang harusnya sudah harus diterapkan dan ditanamkan sejak dini oleh para pesepakbola cilik mereka (jangan mimpi dulu untuk bisa melakukan seperti yang dilakukan Beckham dik!). Dan dalam faktor teknis ini, gaya bermain Libya sudah cukup menunjukkan siapa yang lebih superior.

… dan disaat terakhir sang pelatih Libya akan meninggalkan konferensi pers, terdengar gelak tawa (bernada sinis dan mengejek) sepertinya dari pada audiensi disitu. Dan itulah sepakbola Indonesia. Semoga menuju KEGELAPAN YANG PEKAT DAN HANCUR MELEBUR DI DALAM API NERAKA. Amin.