Beberapa saat yang lalu, aku baru saja menonton sebuah pertandingan big-match yang menurutku, harusnya menjadi final Liga Champions :p. Yup partai tersebut adalah, AC Milan vs. Arsenal. Benar-benar menjadi dilema, ketika dua tim yang sama-sama aku favoritkan dari kecil, dan kubela habis-habisan, ternyata bertemu secepat ini. Sempat terjadi pergolakan batin dalam diriku, ketika membayangkan salah satu dari keduanya harus tersingkir di ajang kompetisi paling bergengsi di ranah eropa itu.
Haruskah aku larut dalam euforia dari kemenangan salah satu tim tersebut?
Akhirnya, aku memutuskan untuk nggak terlalu perduli dengan pergolakan batin. Langsung kuambil remote TV & remote salah satu layanan TV satelit berbayar di Indonesia, dan aku telah melihat salah satu pelajaran yang luar biasa.
.
.
.
.
Bukan pelajaran bagi saya memang, tapi bagi AC Milan :p . Bahwa kekuatan, determinasi, semangat yang dimiliki oleh para pemain muda, JAUH lebih kuat dibandingkan dengan hanya mengandalkan flamboyansi dari para pemain-pemain berpengalaman, bahkan sudah menjelang uzur. Kombinasi dari pemain muda macam Toure-Fabregas-Adebayor jauh lebih terlihat mempunyai determinasi tinggi dibandingkan kombinasi Maldini-Kaka-Gilardino. Atau secara bahasa simplenya, rata-rata umur pemain ternyata sangat berpengaruh dengan cara bermain sebuah tim.
Era kehebatan pemain Milan, sebenarnya sudah mulai habis ketika final Liga Champions 2005 lalu, ketika Liverpool mampu secara mengejutkan memenangkan pertandingan setelah tertinggal 0-3 terlebih dahulu. Dan ketika tahun lalu Milan mampu membalikkan prediksi pengamat, ketika berhasil membalaskan dendam dengan mengalahkan tim yang sama (2-1), itu murni karena faktor Kaka-Sentris, ketika Kaka (yang akhirnya mampu meraih penghargaan Top Skorer Liga Champions, Pemain Terbaik Eropa, Pemain Terbaik Dunia) mampu menunjukkan kualitasnya sebagai playmaker dalam sepakbola modern.
Betapa mirisnya aku ketika Adriano Galliani (Vice Presiden dari AC Milan), memutuskan untuk kembali (lagi-lagi) memperkuat skuad (yang harus menghadapi berbagai kompetisi dari tingkat lokal, eropa dan dunia) dengan para pemain uzur macam Emerson. Pembelian Alexandre Pato adalah salah satu pembelian penting, namun hanya satu itu saja yang akan diandalkan di masa mendatang? Dan Ketika Ancelloti mengumandangkan kepada dunia bahwa skuad “Gudang Tua” yang mereka miliki cukup tangguh untuk meraih kesuksesan seperti tahun lalu, saat itulah blunder demi blunder datang menghampiri klub ini.
Keengganan pelatih dan manajemen untuk meregenerasi sektor belakang (Dida-Jankulovski-Maldini-Nesta-Cafu), membuang sejumlah pemain tak berguna disektor yang sama (Bonera-Simic-Serginho) adalah sebuah KESALAHAN BESAR bagi tim sebesar Milan. Hal itu bisa dilihat dengan tidak adanya para pemain Milan Primavera (U-20) yang berhasil masuk ke jajaran skuad senior. Padahal sejak dahulu, Milan bisa diidentikkan dengan para pemain belakang tangguh asli didikan akademi pemain mudanya, seperti Franco Baresi dan Paolo Maldini (ketika masa jayanya dulu).
Hal itu berarti analisa manajemen dibawah kendali Galliani sangat-sangat buruk. Sudah waktunya untuk Silvio Berlusconi (sang Presiden dari AC Milan) untuk turun tangan dan mengambil alih kemudi. Ketika era keterpurukan Milan pada tahun 90-an kemarin, Berlusconi pulalah yang mampu menempatkan kembali Milan kedalam jajaran klub-klub elit eropa, dimulai dengan era George Weah lalu dilanjutkan dengan Bierhoff dan akhirnya kepada si anak emas, Andrey Shevchenko.
Nasi sudah menjadi bubur, dan fans militan dari AC Milan tentunya harus bisa legawa ketika menyaksikan tim kesayangannya hanya berlaga di kompetisi eropa kelas dua, yaitu Piala UEFA. Dan jika Ancelloti serta Galliani tidak segera mundur, bisa dipastikan era kegelapan Milan pada tahun 90-an dulu terulang.
The Professor secara taktik jauh mengungguli Don Carletto, itu bisa dilihat dari para pemain muda Arsenal yang mampu mengajarkan kepada para pemain tua Milan (yang katanya berpengalaman :p ) bahwa determinasi dan kekuatan stamina dari para pemain muda pada akhirnyalah yang akan maju sebagai tonggak persepakbolaan modern. Salut kepada Cesc Fabregas (salah satu penemuan terhebat Arsene Wenger), Theo Walcott (yang perlahan mulai mampu membalikkan prediksi pesimistis), dan Adebayor (salah seorang calon legenda Arsenal, menggantikan Thierry Henry yang stylish itu).
Semoga saja, tahun depan Milan benar-benar merombak habis skuad tim mereka.
.
.
.
.
Dan ketika Kaka akhirnya memutuskan untuk pindah ke Real Madrid, itu semua adalah salah si amatir Ancelotti dan si botak Galliani
)