-
Komentar Terakhir
wahyu di Diberhentikannya tayangan WWE … nitha di Selamat Jalan, Kawan… Rivanlee di About Me dr di Sandal, Seem Familiar? mardun di Sandal, Seem Familiar? Arsip
- November 2009
- Agustus 2009
- Desember 2008
- November 2008
- Oktober 2008
- Agustus 2008
- Juli 2008
- Juni 2008
- Mei 2008
- April 2008
- Maret 2008
- Februari 2008
- Januari 2008
- Desember 2007
- November 2007
- Oktober 2007
- September 2007
- Agustus 2007
- Juli 2007
- Juni 2007
- Mei 2007
- April 2007
- Maret 2007
- Februari 2007
- Januari 2007
- Desember 2006
- November 2006
Arsip Bulanan: November 2007
Tema yang benar-benar berat untuk dituangkan menjadi sebuah tulisan. Bukan sebagai dr.Cinta, tapi sebagai diri saya sendiri. Hampir 6 bulan lamanya judul ini aku tinggalkan (baca: mangkrak) di sebuah sudut tepian bernama draft pada blog-ku. Menulis judul ini, sama saja seperti menyayat lenganku sendiri hingga berdarah. Sama saja seperti menusuk dada teman-teman saya hingga mereka merintih kesakitan. Keahlianku sebagai dr.Cinta bukan untuk membuat orang lain menderita, akan tetapi membuat bahagia. Karena itulah aku tak mau mewacanakan tema ini dengan sudut pandang dr.Cinta.
Apapun, inti dari perbuatan kita terhadap lawan jenis yang kita sayangi, prinsip utamanya adalah kebahagiaan. Kata teman saya, kebahagiaan untuk diri sendiri. Kata yang lain, untuk kebahagiaan orang lain. Kataku, untuk membahagiakan orang lain sehingga membuat kita bahagia, karena dengan kebahagiaan itulah cinta yang kita berikan kepada orang yang kita cintai tersampaikan, terbalaskan, dan semakin terasah. Dengan kebahagiaan itu, kita, sebagai pendamba cinta, berusaha untuk bertahan di lahan gurun kehidupan ini.
Cinta itu kejam. Dia (cinta) membawa kita terbang hingga langit ketujuh, namun setelah itu menghempaskan kita jatuh kembali ke dasar bumi. Tetapi anehnya, dia itu bagaikan Taman Gantung Babilonia. Dengan segala keunikan dan keindahannya, dia menyuguhkan berbagai macam kecantikan dan keeksotisan dari bunga-bunga yang mekar disana.
Ketika cinta datang secara tak terduga, dia membingungkan kita. Dia memberikan kita dua pilihan, antara bahagia atas kesendirian, atau bahagia atas kebersamaan. Namun, pilihan itu diberikan dengan jangka waktu yang sangat-sangat terbatas, hingga kita sendiri, tidak pernah yakin atas pilihan kita. Dan dengan kepercayaan kita terhadapnya itulah, yang perlahan-lahan menumbuhkan arti cinta sehidup semati dengan dia.
Ketika cinta mengatakan tidak, dia meluluh-lantakkan kerajaan hati kita, menghancurkan ketulusan kita hingga berbulir. Namun, dibalik itu, cinta menunjukkan jalan yang seharusnya kita tempuh selanjutnya. Kita menangisi dia, namun sesungguhnya dia tersenyum pada kita untuk mengharapkan kita mencintainya dengan jalan dan orang yang benar.
Cinta membutakan kita bagaikan silau matahari, namun sekaligus juga meneduhkan kita. Cinta membekukan kita bagaikan padang es yang dingin, namun sekaligus menghangatkan kita di tungku perapian cinta.
Cinta Sehidup Semati, adalah permainan yang hanya boleh kita mainkan sekali seumur hidup kita.
Dan cinta, adalah kembang kehidupan di setiap insan manusia.
Tipikal yang kubenci itu…
Yang suka men-judge orang laen, brutally.
Yang nggak suka kedamaian.
Yang nggak suka ngeliat orang lain tersenyum.
Yang nggak pernah menilai dibalik itu.
Yang nggak…
Well, tapi aku ya aku.
Belum pernah ada orang yang mengerti aku seutuhnya.
[waduh, tulisan based on emotion lagi nih, ampuni aku kawan-kawan...
( ]