Jadi tersenyum simpul (sempet emosi sih, cuman 2 jam thok kok, maap ya nin
) ketika melihat postingan salah satu dari teman-teman terbaikku, karena dia agak sebel dengan postinganku yang mengkritik MenKomInfo (“Sang Nabi” Nuh
). Tapi waktu aku mau isi komen di blognya, eh kok malah dianggap spam
( , begitu juga untuk komen-komen ke blog-blog temen-temen laennya di wordpress. Ancene nasib nginstall CMS nang website dewe….
Ok-ok, back to topic. Ya, aku tau kok nin, postinganku itu memang keras, emang bikin suasana hatimu rada “mendidih”, gara-gara kritikku ke dia. Tapi kritikan itu gak terjadi dengan instan begitu saja. Itu muncul karena aku udah ngerti history-nya
Permasalahan perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia itu, udah aku ikutin terus sejak 2001. Yeah, call me a techno geek
. Jadi menurutku, wajar kalo aku kritik sekeras itu. Dan inginkah aku merubahnya? Tentu saja aku mau!
Tapi sayang, selama pemerintah masih setengah hati untuk memajukan dunia Teknologi Informasi (baca: dikekang), aku nggak bisa berbuat banyak, hanya saran dan kritik. Bener kan? Dan juga berita di detikinet itu isinya cuman keluhan dia saja, lha kok nggak mau nggali fakta kenapa terjadi seperti itu terlebih dahulu…
Dan ditambah lagi karena alasan sentimen pribadi. Bukan karena hasutan dari mantan temen atau temen-temen, tapi karena realitas yang terjadi. Bagaimana jurusan memperlakukan mahasiswanya (Dana A3), fakultas menyakiti angkatan kita (SE), Dekan (sekarang PR I) yang sok suci, mantan PR III yang sok kuat dengan menghancurkan rumahku & menyakiti penghuni-penghuninya, berita yang ditelikung dengan sukses oleh Jawa Pos (mungkin karena mantan Jubir Rektor dulu, yang sekarang jadi Jubir MenKomInfo juga). Dan menurutku, diluar dari alasan pertama (Dana A3), mantan Rektor itulah yang harus bertanggung jawab.
Emosi? Jelas. That’s the way I live (until now). Call me childish or whoever.
Ya, aku tau kok, kamu pro-Nuh, aku kontra-Nuh. But I still think that we’re 2003 family, even though there are few member who have betrayed me & my home (sory, hingga postingan ini dirilis, domain-nya masih expired
), but ALL of us still “family”.
Dan masalah postingan dan komentar di blog-nya Udin, ya mau gimana lagi, segelintir orang yang kecewa dengan hampir semua para anggota Himpunan-nya. Dulu bilang rela berkorban, sekarang malah nyesel. Dulu bilang mengabdi untuk himpunan, eh… malah menghilang entah kemana. Dulu janji menjadikan HMTC lebih maju, malah ditinggal KP & “rekreasi” ke luar negeri. Jadi ketika ada komen “aneh” yang masuk, jangan heran kalo isinya panas melulu.
NB: Oh ya nin, judul postinganmu itu sempet buat aku bingung, thanks to Bahamuth for clearing this problem out