Arsip Bulanan: Juni 2007

Systematic Chaos

Thanks to the Lord, Akhirnya aku dapet juga Systematic Chaos, album ke-9 dari Dream Theater. Salah satu album yang kutunggu, meskipun harus pake acara unduh-mengunduh ala Jack Sparrow (do you know what i mean? :D ). Cukup basa-basinya, mari langsung menuju reff!!!

Menurutku, ini salah satu album “berat” Dream Theater (DT), setelah sebelumnya mereka pernah membuatnya dalam album ke-7, Train of Thought. Tapi dari track pertama hingga terakhir, kelihatannya agak wavy, menggambarkan bahwa setiap track mempunyai “wajah” sendiri. Kenapa? Berbeda dengan album-album sebelumnya (atau lebih tepatnya dimulai ketika era album Scenes of a Memory), dimana antara track satu dengan lainnya “berhubungan”, di album ini jauh berbeda. Di satu sisi, Anda akan mendengar sound-sound berat ala Rammstein, ataupun komposisi metal yang gahar ala Megadeth dan Metallica, di sisi lain malah Anda bisa mendengarkan sound-sound electronic populer, seperti yang dilakukan oleh Muse pada setiap albumnya. Aku agak sedikit terkejut ketika “melihat” gap seperti ini, but hey, that’s Mike Portnoy. He always do something unpredictable, didn’t he?

But, look at the track list. Untuk mensiasati hal seperti itu, DT memisah track In The Presence Of Enemies menjadi dua, dan ditempatkan pada track awal (In The Presence Of Enemies Part 1) dan track terakhir (In The Presence Of Enemies Part 2) sehingga menjadikan album ini sebagai sebuah lingkaran, persis seperti yang dilakukan mereka pada album Octavarium (sekedar saran, dengarkan track Octavarium versi awal, disitu mereka membuat sebuah komposisi yang “terbuka”, berbeda dengan versi rilis resminya).

Diluar dari keterkejutan aku tadi, album ini layak mendapatkan nilai rating 4.5 dari 5. Bukan sebuah album yang sempurna memang, tapi tetap layak disebut sebagai salah satu album masterpiece of Progressive Metal that ever exist (seperti yang mereka lakukan pada 8 album sebelumnya).

Ga sabar nunggu versi live-nya nih… :D

Sudah lama aku nggak buka “praktek” lagi. Maklum, selain masalah kuliah-pekerjaan dan tetek bengeknya, aku juga harus mengatasi problem-problem pribadi, sehingga menyebabkan ruang praktekku jadi tutup hingga jangka waktu yang sangat lama.

Cukup basa-basinya. Sekarang aku mau membahas satu topik menarik (sebenarnya ada satu lagi yang emang bagus banget, cuman timingnya belum pas), yaitu tentang bagaimana proses PDKT itu berjalan. Beberapa waktu lalu, aku sempet liat salah satu acara di MTV Indonesia, nama acaranya lupa, cuman topik bahasannya menarik buatku. Yaitu, bagaimana seseorang (jika dalam proses percintaan yaitu berperan sebagai pihak yang dikejar) harus memberikan sebuah action, yaitu berupa tarik-ulur, sikap antara iya-dan-tidak terhadap seseorang (dalam proses percintaan berperan sebagai pihak yang mengejar) yang menyukainya. Dalam proses PDKT, hal ini dibenarkan, bahkan termasuk salah satu tindakan wajib.

Namun, tentu saja ada batas-batas yang harus diperhatikan dalam melakukan tindakan tersebut. Salah-salah, bisa jadi malah tidak sesuai harapan sama sekali, baik pihak yang bertahan, atau pihak yang menyerang. Kenapa? Hal ini tentu saja ada karena sudah melibatkan dua persepsi dari dua manusia yang berbeda, bukan dalam diri satu orang saja. Ketika Anda memikirkan A, belum tentu Dia memikirkan A, bisa jadi yang ada dipikiran dia adalah Z. Intinya adalah, belum tentu maksud dan tujuan dari tindakan Anda itu bisa dimengerti oleh orang yang dituju.

Misalnya (kalau disesuaikan dengan topik diatas), Anda sengaja memberikan rasa mau dan tak mau kepada sasaran (yang mengejar Anda), tapi secara konstan dan lama waktunya. Hal ini sama saja secara tak sadar memasang bom waktu, karena bisa jadi si sasaran malah kesal dan meninggalkan Anda. Ataupun sebaliknya, bagi Anda yang selalu memberikan perhatian yang terbaik bagi sang sasaran (yang Anda kejar), namun jika terlalu berlebihan, bisa jadi sasaran ketakutan setengah mati.

Jadi satu-satunya langkah terbaik adalah bertanya kepada diri Anda sendiri, dan juga berdo’a (jika Anda bukan kaum atheis tentunya) kepada yang diAtas. Yang harus diperhatikan sebenarnya adalah kadar dari tindakan Anda itu sendiri, apakah berlebihan, sangat kurang, atau cukup. Dan apa parameternya? Sebenarnya yang paling mudah adalah bertanya dengan orang-orang terdekat Anda maupun dia. Namun harap diingat, tidak semua orang yang mau membantu hal-hal begini dengan tulus.

Kesimpulannya, tarik ulur boleh dilakukan, asalkan: tidak berlebihan, harus kepada sasaran yang tepat (karakternya bisa menerima hal tersebut), dan juga tidak terlalu lama.

Damn…
Another day goes by…
Will it be like yesterday?

I just need a long-long-long break,
Please…

If all of you,
Just trying to break my heart,
To kill my dying soul,
Exhausting my body over and over again,
Without want to mend and heal it,

Just… fuck off from me,
Be abandoned one.
.
.
.
.
.
.
.
Hhuah… capek nih… udah 2 tahun lebih nggak pernah ngerasain liburan yang bener-bener liburan. Isinya cuman menyenangkan hati orang terus. Pengen deh, pergi ke bali atau paling nggak yang deket aja deh, ke tretes apa batu gitu, refreshing my mind.

But… after i finish “some business” that i cannot finish it in almost 7 years.