Lewati navigasi

“…Bang, tadi ada kawan nelpon, katanya temen abang udah meninggal…”. Begitulah kutipan ucapan dari pembantuku tadi pagi, ketika membangunkanku yang hanya tidur selama <1,5 jam.

Ucapan yang mampu menggetirkan hatiku.

Salah seorang keluargaku, sahabatku, temanku, rekanku, dipanggil terlebih dahulu oleh Yang Maha Kuasa.

“Kenapa harus dia?”. Tanyaku dalam hati.

Kenapa, orang yang punya determinasi tinggi, cerdas, supel, sabar seperti itu yang dikehendaki oleh Allah terlebih dahulu, untuk berpulang ke Rumah-Nya Yang Agung?

Ketika dia dimakamkan, aku sudah tak kuasa menahan tangis.

“Aku harus tegar, ambillah hikmahnya”. Begitu batinku berkata.

Aku jelas merasa bersalah. Aku masih belum bisa membuat seluruh anggota “keluarga”-ku ini bahagia. Yang ada, aku malah menyusahkan mereka. Bukan tawa kebahagiaan yang dapat kuraih. Namun, rasa sedih dan merelakan yang harus ada lebih dahulu diantara kami.

Bagaimanapun, aku takut. Aku tidak siap sama sekali.

Ketika waktunya nanti, siapa orang-orang yang telah kubahagiakan? Yang telah kucintai? Apakah mereka sudah bahagia? Apakah mereka mencintai seperti aku mencintai mereka juga?

Buat temanku, Lia Kurniawati, semoga amal-amalmu dapat diterima di sisi yang Maha Kuasa. Hanya panjatan do’a-do’a saja yang bisa aku dan “keluargamu” berikan. Terima kasih atas semuanya.

Semoga, semoga saja, Surga adalah tempat yang pantas bagi orang-orang sepertimu.

Terima kasih, dan selamat jalan, kawan…

The Fly – Izinkan

Izinkanlah ku pergi dari sisiMu
Izinkan tuk kucari sisi Tuhanku
Maka dengarkanlah sebuah syair yang indah
Dan bawalah serta cerita yang tersisa

Izinkan ku singgahi taman surgaMu
Izinkanlah bibirku ucap asmaMu
Begitu lekatnya santun kata terucap
Selamat tinggal dunia seiring laraku
Mengharu biru

Uraikan senyummu demi asa yang telah terluka
Dalam hati iringi langkahku
Demi cita yang telah hempaskan sanubariku

Izinkanlah restuku bawamu jauh pergi
Sekiranya mimpiku usai tanpamu

Maka dengarkanlah sebuah syair yang indah
Dan bawalah serta cerita yang tersisa
Begitu lekatnya santun kata terucap
Selamat tinggal dunia seiring laraku mengharu biru

Uraikan senyummu demi asa yang telah terluka
Dalam hati iringi langkahku
Demi cita yang telah hempaskan sanubariku

Uraikan senyummu demi asa yang telah terluka
Dalam hati iringi langkahku
Demi cita yang telah hempaskan sanubariku

Terlelap sudah ruang dan waktu
Tercerai sukma dari tubuhku
Saat menepi titian diri
Ku memohon tuluskanlah hatimu

Satu komentar

  1. lia tuch temen smp aku….kebetulan dy sklolh smp di makassar….
    aku g nyaknga dy sudh g ada…
    dari kemaren aku lg nyariin dy…lewat facebook or friendster…
    aku sedih bgt ngedengrin berita klo dy dh g ada…
    km punya foto dy waktu masih kuliah g..???
    boleh minta g…???
    kirimin ke email aku az…nitha.karim85@yahoo.co.id
    thanks b4 yach…???


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.