Arsip Bulanan: Desember 2006

Percayakah Anda dengan yang namanya kesempatan?
Aku yakin, Anda percaya dengan kesempatan pertama.
Anda mungkin masih percaya dengan kesempatan kedua.
Tapi percayakah Anda dengan kesempatan ketiga?

Aku nggak tau, apakah Tuhan mau memberikan kesempatan itu untuk ketiga kalinya.
Sudah dua kali, aku (secara sadar!) udah menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dan aku yakin, Tuhan sudah benar-benar murka dengan hamba-Nya yang bodoh ini.

Aku tak tau, seperti apa masa depan yang akan menantiku kelak.
Jika Engkau menerima ampunku, berilah aku kesempatan ketiga itu ya Tuhan.
Tolong berilah kesempatan ketiga itu ya Tuhan, bagi hamba-Mu yang rapuh ini.
Tolong berilah, bagi hamba-Mu yang tak ingin mengulangi kesalahan yang sama ini.

Jika setiap pagi aku “tidak bisa hidup tanpa koran”, tiap siang aku “tidak bisa hidup tanpa makan”, tiap sore “tidak bisa hidup tanpa minum teh”, maka tiap malam aku “tidak bisa hidup tanpa mendengarkan Dream Theater”. Cukup deh basa-basinya, kali ini aku mau nge-review sebuah album (walaupun belum bisa kukatakan masterpiece) dari Dream Theater (selanjutnya akan aku singkat jadi DT aja, demikian pula untuk posting-posting blog-ku berikutnya) yang berjudul “Score”. Album ini bisa dikatakan spesial, soalnya sengaja dirilis dalam rangka 20 tahun berdirinya sebuah ultra-grup, mastermind of progressive metal, The Untold One, The Magnificant Five, Dream Theater (DT).

Album ini dibuat pada saat konser terakhir dari “20th Anniversary” mereka di Radio Music City Hall, yang bertempat di New York. Yang membedakan dari konser-konser DT pada umumnya adalah, terdapatnya sebuah kelompok orkestra simfoni yang bernama “Octavarium Orchestra” yang dikonduksi oleh Jamshied Sharifi. Jangan pernah menyamakan kekompok orkestra tersebut dengan kelompoknya si Michael Kamen, dalam kolaborasinya bersama dengan Metallica pada “S&M”. Maksudku, jangan mengharapkan semua lagu-lagu DT akan dikomposisi ulang, dengan penambahan dari alat-alat musik orkestra seperti yang terjadi dengan mega grup seperti : Metallica dan Scorpions. Kok bisa? Dengarkan saja langsung!

Inilah komposisi lagunya:

  1. “The Root Of All Evil” – 9:32
  2. “I Walk Beside You” – 4:10
  3. “Another Won” – 5:40
  4. “Afterlife” – 7:28
  5. “Under A Glass Moon” – 7:27
  6. “Innocence Faded” – 6:16
  7. “Raise The Knife” – 11:51
  8. “The Spirit Carries On” – 9:37
  9. “Six Degrees Of Inner Turbulence” – 41:26
  10. “Vacant” – 3:03
  11. “The Answer Lies Within” – 5:36
  12. “Sacrificed Sons” – 10:36
  13. “Octavarium” – 27:29
  14. “Metropolis” – 11:16

Yang “seru” dari album ini, lagu-lagu ketika mereka masih memakai nama grup Majesty juga ditampilkan. Boleh dibilang, ini adalah autobiografi mereka dalam bentuk konser.

Mengenai rating album? Karena ini albumnya DT, maka aku berani untuk memberi nilai 5,8 dari 6. Overall, album ini layak bagi Anda yang ingin mencari referensi musik progresif metal, dengan cita rasa professional tentunya.

Huufff…. akhirnya kembali nge-blog juga, setelah kemaren-kemaren pikiran agak berat keganggu sama “setan” DoTA dan Laporan+Aplikasi KP yang nggak selesai-selesai… Ok, back to topik. Sengaja aku mau nulis masalah topik diatas, gara-gara kepancing sama blog-nya mas Guntar yang ngebahas masalah perbedaaan antara wanita dan pria. Kita semua sama-sama tahu, kalo perbedaan yang paling mendasar dari cowok dan cewek itu ada dari alat kelamin mereka masing-masing. Namun, bukan masalah-masalah biologi seperti itu, ataupun psikologi umum (seperti yang mas Guntar bahas) yang mau aku bahas disini. Tapi, mengenai betapa enaknya cewek dibandingkan cowok jika dilihat dari sisi cinta.

Kok bisa?

Tentu saja bisa. Hal ini, selain dipengaruhi oleh jumlah perbedaan antara cowok ganteng dan cewek cantik di dunia yang sudah semakin timpang, juga didukung oleh sifat dasar masing-masing individu (benernya sih dari kebiasaan-kebiasaan yang udah mendarah daging). Cowok (dalam bahasan disini adalah calon pacar/tunangan/suami) itu diharuskan (kalo menurutku sih diwajibkan) untuk “bersusah payah” dahulu supaya sang cewek mau “bertekuk lutut”.

Sementara bagi pihak cewek? Tugas mereka adalah “memilih” mana kira-kira cowok yang pantas bagi mereka (si kaum cewek) untuk dijadikan “tempat bergantung”. Jika dilihat dari sisi faktor, cewek memang (menurutku lho) udah keterlaluan. Tuntutan mereka itu nggak jauh-jauh dari (dengan pengurutan nomor 1 adalah hal yang paling utama, hingga menuju nomor 6 adalah hal yang tidak seberapa diperhatikan):
1. Kedewasaan,
2. Ketampanan (antara wajah dan bentuk badan),
3. Harta,
4. Kemampuan (baik masalah IQ atau ketahanan fisik),
5. Pergaulan (baik dari lingkungan maupun tata caranya),
6. Imannya.

Sementara cowok? Lebih sedikit malah, mereka hanya menuntut:
1. Kecantikan,
2. Pergaulan,
3. Iman,
4. Kedewasaan.

Lebih sedikit bukan? Kenapa bisa perbedaan yang terjadi terpaut jauh begitu? Banyak alasan. Jika Anda mempelajari tentang psikologi antara wanita dan pria (tidak akan kubahas disini), tentu Anda bisa menangkap alasannya.

Oh sebelum aku tutup tulisanku kali ini, bagaimana dengan membeberkan kriteriaku? Ok, ada 4 kriteria yang aku minta (ngapain banyak-banyak):
1. Kedewasaan,
2. Iman,
3. Pergaulan,
4. Kecantikan.

Bagi saya, kedewasaan itu lebih penting dari kecantikan. Karena wanita justru akan terpancar kecantikannya ketika mereka menunjukkan kedewasaannya. Betul nggak? :D