Arsip Bulanan: November 2006

Dari wikipedia:

Truth or Dare? is a party game requiring a minimum of two players. The game is very popular with adolescents, but is also played by some adults. One player starts the game by asking another player, “Truth or dare?” If the queried player answers, “truth,” then the questioning player asks a question, usually embarrassing, of the queried player; otherwise, if the queried player answers, “dare,” then the questioning player asks the queried to do something, also usually embarrassing. If the question or dare is unreasonable (the exact definition of unreasonable varies from one playing group to another), then the player may demand another question or another dare instead. After answering the question or doing the dare, the queried player asks “truth or dare?” of another player and the game proceeds as before. The game can also be played in teams, with all players in a team having to participate in the dare or answer the question. The dares are often sexual to some degree. Truth traditionally revolves around love or other subjects that are embarrassing to the person being questioned.

Hm… sebuah “permainan” yang mengasyikkan ya… namun, hati-hati jika Anda belum pernah main yang beginian. Nggak siap mental+hati, siap-siap menanggung malu seumur hidup. Bisa jadi, anda memilih mati daripada disuruh melakukan “dare”. Ya kan rie? :p

Kalo inget tentang kampusku, Fakultas Teknologi Informasi Jurusan Teknik Informatika ITS, Pikiran ini tiba-tiba inget tentang sesuatu. Sesuatu hal yang kata orang-orang itu hanyalah hal yang kecil, namun nggak akan bisa dilupakan. Hanya aku yang tahu, dan aku bangga akan hal itu. Sebuah hal yang manis (meskipun sekarang hanyalah sebuah debu dalam perjalanan hidup), namun mampu membangkitkan gairah hidupku. Walaupun “hal itu” naik dan turun, panas dan hujan, gelap dan terang, manis dan pahit. Semua punya makna, untuk menjadikanku lebih kuat, tegar, dan lebih mengerti tentang apa arti “dewasa” itu. Semua kisah itu bermula dari sebuah pesan, yang seperti biasa, tidak seberapa aku perdulikan. Bukan karena aku tidak tertarik, tapi itu memang sifatku jika tidak seberapa kenal dengan seseorang. Aku sadar, sifatku ini terkadang (seringnya) malah jadi bumerang. Namun, betapa kerasnya sebuah batu, namun jika ditetesi air maka batu itu akan menjadi lapuk juga. Entah kenapa, sifat keras kepalaku bisa toleran terhadap ini. Hebat. Hanya kata itu yang pantas kuucapkan untuknya. Maaf. Hanya (kata) ini yang bisa ku(bayar)ucapkan, setelah banyak sekali, ke-tidak-dewasa-an dariku yang telah menghancurkan sebuah susunan puzzle yang indah, yang sampai saat ini masih kucari. Pada akhir bagian ini, aku cuman mau bilang terima kasih…

Tahun (semester) ini, aku ngerasa ada yang berubah banget dari lingkunganku. Entah karena aku udah makin tua, temen-temenku pada sibuk semua, atau aku-nya yang masih pengangguran ya? Jadi agak sedih juga, ketika aku merefleksikan diriku pada masa 1 tahun yang lalu, ketika aku udah punya pekerjaan (meskipun freelance sih). Tetapi ketika itu kehidupanku padat banget. Bangun jam 10, berangkat ke kantor (kalo nggak ada kuliah), sore ke kampus (ngerjain praktikum), malem ke kantor lagi (kalo ada deadline), malem hari jalan-jalan sama anak-anak, dini hari pulang, ngegame bentar, terus tidur. Belum lagi masalah himpunan dan segala macemnya. Kalo sekarang, malah seperti orang pengangguran. Bangun jam 12, berangkat kuliah, sore main PS bentar di beskem 2003, makan di warung, trus ke kampus, trus main DoTA, pulang, ngenet bentar, terus tidur. Nah, disini masalahnya. Gara-gara lifestyle yang pathetic itu, aku jadi bingung kalo tiba waktunya mau ngerjain tugas, atau mau iseng belajar. Harus mulai dari mana? Otak udah siap… tapi kok tubuh ini nggak mau diajak kompromi ya? Padahal, kalo udah tiba waktunya main DoTA, capek di badan ini malah hilang… Memang sih, di semester ini masa-masa terberat kuliah udah lewat. Nggak seperti jamannya aku kerja dulu. Aku heran deh, padahal cuman kehilangan “itu”, tapi efeknya kok udah mendarah daging?